Epitaf untuk Dunia yang Sekarat: Ketika Server Game Online Dimatikan

Suatu hari nanti, server akan dimatikan. Lampu-lampu hijau di rak-rak pusat data akan berkedip untuk terakhir kalinya, rajatogel lalu padam. Di layar-layar di seluruh dunia, pesan error akan muncul: “Connection lost.” “Server not found.” “Unable to connect.” Dan dengan itu, seluruh dunia akan lenyap. Istana-istana yang dibangun dengan susah payah selama bertahun-tahun akan sirna. Karakter-karakter yang telah kita besarkan, kita cintai, kita habiskan ribuan jam untuk mengembangkannya, akan berhenti ada. Persahabatan yang terjalin di dalamnya akan putus, kecuali jika cukup kuat untuk bertahan di luar.

Inilah realitas yang tidak pernah kita bicarakan ketika asyik bermain game online. Bahwa semua ini sementara. Bahwa dunia yang kita huni dengan begitu total, yang terasa begitu nyata, pada akhirnya hanyalah pinjaman. Bahwa suatu hari, karena alasan bisnis atau teknis, pintu gerbangnya akan ditutup dan kita tidak akan pernah bisa masuk lagi. Tidak ada museum yang menyimpan dunia itu. Tidak ada arsip yang bisa kita kunjungi untuk bernostalgia. Ia akan hilang seperti tidak pernah ada.

Sejarah game online penuh dengan kuburan massal semacam ini. Game-game yang pernah populer dengan jutaan pemain, suatu hari mengumumkan penutupan server. Para pemain berkumpul untuk terakhir kalinya, mengadakan perpisahan, menangis bersama, lalu logout untuk selamanya. Beberapa tahun kemudian, hanya segelintir orang yang masih ingat. Dua puluh tahun kemudian, hanya catatan kaki di Wikipedia. Namun bagi mereka yang pernah hidup di dalamnya, kehilangan itu nyata. Kehilangan itu seperti kehilangan rumah masa kecil yang dirobohkan untuk pembangunan mal.

Saya ingat ketika server game pertama yang saya huni selama lima tahun diumumkan akan ditutup. Rasanya seperti mendengar diagnosis penyakit terminal untuk seseorang yang kita cintai. Awalnya denial: “Pasti ada cara, pasti ada protes, pasti pengembang akan mendengar.” Lalu marah: “Mereka serakah, mereka hanya peduli uang, mereka tidak mengerti apa artinya ini bagi kami.” Lalu tawar-menawar: “Mungkin kalau kita semua bersedia membayar lebih, mungkin kalau kita kumpulkan petisi…” Lalu depresi. Dan akhirnya, penerimaan.

Minggu-minggu terakhir sebelum penutupan adalah masa yang aneh. Dunia yang biasanya ramai dengan pertempuran dan petualangan, tiba-tiba berubah menjadi tempat ziarah. Para pemain tidak lagi mengejar level atau perlengkapan. Mereka hanya berjalan-jalan, mengunjungi tempat-tempat favorit, berfoto bersama teman-teman, duduk di pinggir pantai virtual dan berbincang tentang kenangan. Di kota utama, pernikahan massal diadakan. Di puncak gunung tertinggi, upacara peringatan bagi karakter yang sudah tidak aktif bertahun-tahun. Seluruh dunia berubah menjadi museum dirinya sendiri.

Leave a Reply